Khazanah Khutbah Idul Adh-Ha 1439 H

بسم الله الرحمن الرحيم
wCEAAkGBxISEhUSEhIVFRUVFxUVFRUVFRUVFRUVFRUXFhcXFRUYHSggGB Khazanah Khutbah Idul Adh-ha 1439 H
Khutbah Idul Adh-ha 1439 H
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ :  
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Laailaahaillallahu wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar kabira.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd. Allahu akbar wa ajallu. Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa.
Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat
Sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah yang telah melimpahkan kepada kita banyak sekali macam nikmat yang tidak terhitung jumlahnya oleh kita. Di antara nikmat-nikmat itu, yang paling besarnya yaitu nikmat diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa agama Islam, sehingga insan yang sebelumnya berada dalam kegelapan dan kebodohan, maka dengan mengikuti Beliau mereka berada dalam cahaya dan pengetahuan. Mereka menjadi kenal siapa Rabb mereka, mengenal jalan mana yang diridhai Rabb mereka, dan mengetahui untuk apa mereka diciptakan di dunia.
Abu Bakar Syu’bah bin Ayyasy rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk bumi sedangkan mereka berada dalam kerusakan, maka Allah memperbaiki kondisi mereka dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh alasannya yaitu itu, barang siapa yang mengajak untuk mengikuti selain petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bahwasanya ia termasuk orang-orang yang mengadakan kerusakan.”
Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat
Sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!
Khatib berwasiat kepada diri khatib dan kepada hadirin sekalian untuk tetap bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, alasannya yaitu ia yaitu solusi menghadapi problematika di dunia, kunci meraih rezeki  dan memperoleh banyak sekali kemudahan, serta sebagai jalan untuk menggapai nirwana di darul abadi kelak. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا-وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah pasti Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.--Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath Thalaq: 2-3)
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kau kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada nirwana yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali Imran: 133)
Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat
Sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا
“Sesungguhnya masing-masing kaum mempunyai hari raya, dan ini yaitu hari raya kita.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Hari raya umat Islam ini (Idul Fitri dan Idul Adh-ha) mempunyai kelebihan dibanding hari raya-hari raya yang ada yang diperingati manusia. Hari raya yang diperingati sebagian insan isinya mengandung kemusyrikan dan kekufuran, dosa dan kemaksiatan. Sedangkan hari raya umat Islam ini mengandung takbir (mengagungkan Allah) dan tauhid (mengesakan-Nya dalam beribadah) semoga kekerabatan kita dengan-Nya menjadi baik. Demikian pula dalam hari raya Idul Adh-ha mengandung perilaku ihsan (berbuat baik) kepada hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membuatkan kepada mereka, menyerupai menghadiahkan daging kurban kepada mereka semoga kekerabatan kita dengan orang lain menjadi baik.
Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat
Sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!
Hari Ied atau hari raya yaitu hari yang biasa diisi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Di hari raya, umat Islam menampakkan rasa besar hati dan bahagia, serta berusaha menghibur dirinya dari kelelahan dalam menjalani hidup di dunia. Oleh alasannya yaitu itu, nikmatilah semua yang baik yang Allah halalkan untuk kita, syukurilah nikmat itu dengan melaksanakan perintah-Nya, dan jauhilah hal-hal yang diharamkan pasti Dia akan menjaga nikmat itu atas kita dan akan memberinya tambahan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, bila benar-benar kepada-Nya kau menyembah.” (QS. Al Baqarah: 172)
Silahkan menikmati kesenangan yang Allah halalkan untuk kita, namun tidak melampaui batas dengan mengerjakan larangan-Nya; silahkan besenang-senang menikmati kesenangan dunia ini, namun jangan melupakan akhirat. Inilah keseimbangan dalam hari raya kita.
Termasuk perilaku syukur pada hari raya yaitu melaksanakan shalat Ied dan berkurban. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat alasannya yaitu Tuhanmu dan berkurbanlah.” (Qs. Al Kautsar: 2)
Kurban merupakan bentuk syukur kita kepada Allah, mentauhidkan-Nya dengan menyebut nama-Nya saja ketika menyembelih, sekaligus untuk menghidupkan sunnah dua kekasih Allah; Nabi Ibrahim alaihis salam dan Nabi Muhamad shallallahu alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kita melaksanakan shalat Ied semoga kita mengawali hidup kita dengan kebaikan dan untuk membedakan antara hari raya kita kaum muslimin dengan hari raya non muslim.
Dalam berkurban juga terdapat berbuat ihsan kepada diri, keluarga, tetangga, teman, tamu, dan kaum fakir-miskin.
Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat
Sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!
Dalam Idul Adh-ha kita mengenang dongeng Nabi Ibrahim alaihis salam dikala bermimpi menyembelih anak kesayangannya, Nabi Ismail alaihis salam, dimana mimpi para nabi yaitu benar, maka ketika Nabi Ibrahim alaihis salam hendak melaksanakan mimpinya itu dan telah membaringkan anaknya di atas pelipisnya, ketika itu semakin nyatalah kesabaran keduanya, patuh dan tunduknya mereka berdua kepada perintah Allah, dan cinta yang dalam Nabi Ibrahim alaihis salam kepada Allah Rabbnya, Allah pun melarangnya menyembelih anaknya dan menebusnya dengan seekor kambing yang besar. Berkat kesabaran dan kepatuhannya kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah jadikan Nabi Ibrahim alaihis salam sebagai imam yang patut dijadikan referensi dan menjadikannya sebagai kekasih-Nya.
Peristiwa itu kemudian menjadi dasar disyariatkan kurban yang dilakukan pada hari raya Idul Adh-ha di banyak sekali pelosok dunia.
Dari kejadian itu, kita juga sanggup mengambil pelajaran, bahwa,
مَنْ تَرَكَ شَيْئًا ِللهِ ، عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ
“Barang siapa yang meningalkan sesuatu alasannya yaitu Allah, maka Dia akan mengganti dengan yang lebih baik daripadanya.” (Dari hadits riwayat Ahmad, dan dinyatakan shahih isnadnya oleh Syaikh Al Albani)
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَ اللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَللهِ الْحَمْدُ.
Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat
Sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!
Idul Adh-ha yaitu hari yang paling agung dan paling utama di sisi Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ
“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah Tabaaraka wa Ta’aala yaitu hari nahar (Idul Adh-ha), kemudian hari qar (setelah hari nahar).” (HR. Ahmad,  Abu Dawud, dan Hakim, dishahihkan oleh Hakim dan Al Albani, Shahihul Jami’ no. 1064).
Hari raya Idul Adh-ha lebih utama daripada Idul Fitri alasannya yaitu di hari Idul Adh-ha terdapat shalat Ied dan berkurban, dalam Idul Fitri terdapat shalat Ied dan bersedekah, sedangkan berkurban lebih utama daripada bersedekah. Di samping itu, pada hari nahar berkumpul dua keutamaan; waktu dan daerah yang utama.
Hari ini dan tiga hari setelahnya yaitu hari raya kita kaum muslimin; di samping Idul Fitri dan hari Jum’at. Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَوْمُ الْفِطْرِ وَ يَوْمُ النَّحْرِ وَ أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ عِيْدُنَا أَهْلُ الْإِسْلاَمِ وَ هِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَ شُرْبٍ
“Idul Fitri, hari nahar (Idul Adh-ha), dan hari-hari tasyriq yaitu hari raya kita kaum muslim. Ia yaitu hari makan dan minum. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Hakim, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 8193)
إِنَّ هَذِهِ الْأَيَّامَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَ شُرْبٍ وَ ذِكْرِ اللهِ
“Sesungguhnya hari-hari ini (hari nahar dan hari tasyriq) yaitu hari makan, minum, dan berdzikr kepada Allah.” (HR. Ahmad, Muslim, Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Oleh alasannya yaitu hari tasyriq juga sebagai hari raya, maka diharamkan melaksanakan puasa pada hari-hari tersebut kecuali bagi orang yang tidak memperoleh hadyu tamattu, maka ia boleh melaksanakan puasa pada hari tersebut.
Kita pun disyariatkan banyak berdzikr menurut hadits di atas. Oleh karenanya,  kita disyariatkan melaksanakan takbir pada hari raya Idul Adh-ha dimulai dari subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai simpulan hari tasyriq. Ini yaitu takbir muqayyad, takbir yang kita baca seusai shalat sesudah beristighfar tiga kali dan mengucapkan Allahumma antas salam wa minkas salam tabaarakta yaa dzal Jalalil wal Ikram, di samping kita baca juga secara mutlak.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَ اللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَللهِ الْحَمْدُ.
Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat
Sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!
Idul Ad-ha juga mengingatkan kita kepada sejarah bapak para nabi, yaitu Nabi Ibrahim alaihis salam; bagaimana Beliau berdakwah mengajak kaumnya hanya menyembah Allah dan meninggalkan patung-patung serta apa saja yang disembah selain Allah, bagaimana Beliau menghancurkan patung-patung yang disembah kaumnya, dan bagaimana Beliau selalu tunduk dan patuh terhadap perintah Allah, sehingga Dia menimbulkan Ibrahim sebagai imam; panutan bagi umat manusia. Demikian pula Idul Adh-ha mengingatkan kita terhadap salah satu sunnah Nabi Ibrahim alaihis salam, yaitu berkurban.
Berkurban yaitu sunnah dua orang kekasih Allah Azza wa Jalla, yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimash shalatu was salam. Ibadah ini disyariatkan untuk merealisasikan tauhid, mengagungkan dan membesarkan Allah Azza wa Jalla, serta semoga nama-Nya saja yang disebut ketika menyembelih hewan; tidak selain-Nya. Dia berfirman,
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ -لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Katakanlah, bahwasanya shalatku, kurbanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.—Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan yang demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan saya yaitu orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (QS. Al An’aam: 162-163)
Ibadah kurban juga disyariatkan untuk pertanda ketakwaan kita kepada Allah Azza wa Jalla,
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ 
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak sanggup mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang sanggup mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)
Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat
Sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!
Pensyariatan kurban sangat ditekankan bagi orang yang mampu, bahkan sebagian ulama beropini wajib bagi mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ وَجَدَ سعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
“Barang siapa yang mempunyai kesanggupan (untuk berkurban), namun tidak mau melakukannya, maka jangan sekali-kali mendekati daerah shalat kami (lapangan).”  (HR. Ibnu Majah dan lain-lain dengan sanad hasan).
Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat
Sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!
Ibadah yang satu ini (kurban) mempunyai aturan-aturan sebagaimana yang telah diterangkan dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:
-   Seekor kambing cukup untuk satu keluarga.
-   Seekor unta dan sapi cukup untuk tujuh orang.
-   Hewan kurban hanya sah bila selamat dari cacat yang menjadi penghalang untuk keabsahannya. Cacat tersebut yaitu buta sebelah matanya dengan jelas, pincang dengan jelas, sakit dengan jelas, dan kurus sekali tidak bersumsum (Hal ini menurut hadits Al Barra’). Termasuk pula cacat-cacat yang semisal itu atau lebih parah lagi.
-   Usia binatang yang dikurbankan harus sesuai. Jika unta, maka yang usianya 5 tahun, sapi yang usianya 2 tahun, kambing yang usianya setahun, sedangkan biri-biri atau domba minimal 6 bulan.
-   Waktu menyembelih dimulai dari sesudah  shalat Ied, dan berlangsung sampai simpulan hari tasyriq.
-   Si penyembelih wajib mengucapkan basmalah (Bismillah), dan dianjurkan menambahkan dengan takbir “Allahu akbar”.
-   Dianjurkan dalam distribusi binatang kurban yaitu orang yang berkurban ikut memakan daging binatang kurbannya, kemudian menyedekahkan, dan menghadiahkan kepada orang lain.
-   Dianjurkan menyembelih binatang sendiri bila ia bisa menyembelih, atau menghadiri proses penyembelihan binatang kurbannya.
-   Tidak boleh membayar tukang jagal dari binatang kurbannya, namun tidak mengapa memberinya dalam bentuk hadiah (bukan sebagai upah).
-   Tidak diperbolehkan menjual kulitnya, namun boleh dimanfaatkan.
Demikianlah hukum-hukum singkat seputar kurban.
Kita berdoa kepada Allah semoga Dia membimbing kita semua ke jalan yang diridhai-Nya, memasukkan kita ke surga, dan menghindarkan kita dari neraka.
هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْوَرَى ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ سُبْحَانَهُ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا " ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَّمَدٍ ، وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ ، وَعَلَى الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ ، وخَصَّ مِنْهُمُ الْخُلَفَاءَ الْأَرْبَعَةَ الرَّاشِدِيْنَ ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِناً مُطْمَئِناًّ وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُوْرِنَا ، وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Marwan Hadidi, M.Pd.I
Telegram: @Pena_Islam

Sumber http://wawasankeislaman.blogspot.com/

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Khazanah Khutbah Idul Adh-Ha 1439 H"

Post a Comment