Subhanallah!! Bilal bin Rabah, Pengumandang Seruan Langit

Subhanallah!! Bilal bin Rabah, Pengumandang Seruan Langit
Subhanallah!! Bilal bin Rabah, Pengumandang Seruan Langit

Sahabat Khazanah Islam Yang berbahagia, Bilal bin Rabah seorang budak berkulit hitam dari Habasyah (sekarang Ethiopia, Afrika). Bilal bin Rabah lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. ibunya mempunyai nama Hamamah, wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekkah sedangkan Ayahnya mempunyai nama Rabah, seorang budak. Karena ibunya itu, sebagian besar orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).

Bilal bin Rabah besar di kota Ummul Qura’ (Mekkah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah Bilal meninggal, Bilal  bin Rabah budak yang diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir Quraisy.

Ketika Mekkah diterangi cahaya agama Islam dan Rasul yang agung Rasulullah Muhammad SAW mulai menyerukan seruan kalimat tauhid, Bilal bin Rabah adalah termasuk dalam golongan pertama orang-orang yang memeluk Islam. Saat Bilal bin Rabah masuk Agama Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama yang dibawa Rasululllah Muhammad SAW, diantaranya Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir dan ibunya, Sumayyah, al-Miqdad bin al-Aswad dan Shuhaib ar-Rumi,

Bilal bin Rabah merasakan penganiayaan yang dilancarkan oleh kaum musyrikin yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam siksaan, kekejaman, dan kekerasan mendera tubuh Bilal. Namun Bilal, tetap sabar menghadapi ujian membela Agama Islam dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun di dunia ini.

Orang-orang Islam yang awal seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki suku dan keluarga yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan budak, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa ada belas kasihan sedikitpun. Kaum Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran agama yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW.

Kaum budak yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang tak mengenal kasih sayang dan berhati sangat kejam, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah ibunda Ammar bin Yasir. Ia sempat mencaci maki dan menghina, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam. Allahu Akbar!!

Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, diantaranya Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh kaum kafir Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas kepala dan padang pasir Mekah berubah menjadi panas yang menyengat, orang-orang kaum kafir Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memberikan baju yang terbuat dari besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang kaum kafir Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Rasulullah Muhammad SAW. Astaghfirullah!!

Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang kaum kafir Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal bin Rabah, semoga Allah SWT meridlainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW.

Kaum Kafir Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal bin Rabah adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal bin Rabah kukuh berkata, “Ahad, Ahad (Allah Yang Maha Esa).” Mereka menindih dada Bilal yang tanpa baju dengan batu besar yang panas, Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya hingga melewati batas manusiawi, namun Bilal bin Rabah tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Kaum Kafir Quraisy memaksa Bilal bin Rabah agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal bin Rabah justru memuji nama Allah SWT dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksa Bilal, “Ikutilah yang kami katakan!”

Bilal bin Rabah pun menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin gencar dan membabi buta

Apabila merasa bosan dan lelah menyiksa, si empunya Bilal, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal bin Rabah dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah anak-anak dan orang tak berbudi agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Mekkah. Sementara itu, Bilal bin Rabah menikmati siksaan yang diterimanya karena membela agama Islam dan Rasul-Nya. Bilal terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Bilal bin Rabah terus menerus mengatakanna tanpa merasa lelah dan bosan.

Suatu hari, Sahabat Abu Bakar As Shiddiq mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf pemilik Bilan untuk membeli Bilal bin Rabah darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Umayyah mengira Abu Bakar As Shiddiq tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, demi membela saudara sesame Muslim, Abu Bakar As Shiddiq setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.

Seusai membeli Bilal, Umayyah berkata kepada Abu Bakar As SHiddiq, “Sebenarnya, kalau engkau menawar Bilal sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”

Abu Bakar As Shiddiq membalas pernyataan Umayyah , “Seandainya engkau Umayyah memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membeli Bilal bin Rabah.”

Ketika Abu Bakar As Shiddiq memberi tahu Rasulullah Muhamad SAW bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal bin Rabah dari cengkeraman para penyiksanya Kaum Quraisy, Rasulullah Muhammad SAW berkata kepada sahabatnya, Abu Bakar As Shiddiq, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, “Aku telah memerdekakannya, Ya Rasulullah.”

Setelah Rasulullah Muhammad SAW mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Kota Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal bin Rabah. Setibanya di Kota Madinah, Bilal bin Rabah tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya mereda, Bilal bin Rabah melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih dan jelas,

Tidak mengherankan, mengapa Bilal bin Rabah begitu mendambakan Mekkah dan perkampungannya; merindukan pegunungandan dan lembah nya, karena di sanalah Bilal bin Rabah merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Di sanalah Bilal berhasil melawan hawa nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Kota Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang kafir Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Rasulullah sekaligus kekasihnya, Bilal bin Rabah selalu mengikuti Rasulullah Muhammad SAW ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad di Jalan Allah SWT. Kebersamaannya dengan Rasulullah Muhammad SAW ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Saat Rasulullah Muhammad SAW selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan adanya adzan, maka Bilal bin Rabah yang mempunyai suara merdu ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan (muadzin) dalam sejarah Islam.

Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal bin Rabah berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Muhammad SAW seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat) Lalu, ketika Rasulullah Muhammad SAW keluar dari rumah dan Bilal bin Rabah melihat beliau, Bilal pun segera mengumandangkan iqamat.

Suatu ketika, Raja Habasyah, Najasyi, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah Muhammad SAW mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada sahabat Ali bin Abu Thalib dan sahabat Umar bin Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal bin Rabah. Sejak saat itu, selama Rasulullah hidup, Bilal bin Rabah selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan Rasulullah saat melakukan shalat di luar masjid.

Bilal bin Rabah menyertai Rasulullah dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah SWT memenuhi janji-Nya dan menolong Pemeluk agama-Nya. Bilal bin Rabah juga melihat langsung tewasnya para pembesar kafir Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Bilal melihat Umayyah bin Khalaf dan Abu Jahal tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir kencang karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.

Saat Rasulullah Muhammad SAW menaklukkan kota Mekkah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ’sang pengumandang panggilan langit’, Muadzin Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Muhammad SAW dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muadzin Rasulullah Muhammad SAW

Ketika Shalat dhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Muhammad SAW, termasuk orang-orang Quraisy yang baru memeluk Agama Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Muhammad SAW memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal bin Rabah melaksanakan perintah Rasulullah dengan senang hati, lalu mengumandangkan adzan dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Ribuan pasang mata memandang ke arah Bilal bin Rabah dan ribuan lidah mengikuti kalimat adzan yang dikumandangkan Bilal. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka semua.

Saat adzan yang dikumandangkan Bilal bin Rabah sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Anak Abu Jahal, Juwairiyah binti Abu Jahal,menggumam, “Sungguh, Allah SWT telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.

Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Muhammad SAW ke kota Mekah..

Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal bin Rabah naik ke atas Ka’bah.”

AI-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. budak dari golongan bani Jumah (Bilal bin Rabah) bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”

Saat itu Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya mengatakan, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”

Bilal bin Rabah menjadi muadzin tetap selama Rasulullah Muhammad SAW hidup. Selama itu pula, Rasulullah Muhammad SAW sangat menyukai suara adzan yang dikumandangkan Bilal

Sesaat setelah Rasulullah Muhammad SAW wafat, waktu shalat tiba. Bilal bin Rabah berdiri untuk mengumandangkan adzan, sementara jasad Rasulullah Muhammad SAW masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal bin Rabah sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangisnya, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Muhammad SAW, Bilal bin Rabah hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, Bilal bin Rabah langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

oleh sebab itu, Bilal bin Rabah memohon kepada Khalifah Abu Bakar Ash SHiddiq, yang menggantikan posisi Rasulullah Muhammad SAW sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan adzan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal bin Rabah juga meminta izin kepada Abu Bakar untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, Abu Bakar ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal bin Rabah sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal bin Rabah mendesak Abu Bakar seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar Ash Shiddiq pun menjawab dengan tegas, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal bin Rabah menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah menyerukan adzan untuk siapa pun setelah Rasulullah Muhammad SAW wafat.”

Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq pun menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal bin Rabah pun pergi meninggalkan Kota Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Khalifah Abu Bakar. Bilal menetap di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan adzan hingga kedatangan Umar bin Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal bin Rabah  setelah terpisah cukup lama.

Umar bin Khattab sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepada Bilal, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar Ash Shiddiq adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal bin Rabah).”

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan adzan di hadapan al-Faruq Umar Bin Khaththab. Ketika suara Bilal bin Rabah yang merdu dan nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan adzan, Umar bin Khattab tidak sanggup menahan tangisnya, maka Umar pun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata masing-masing. Suara Bilal bin Rabah membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Muhammad SW.BiIal bin Rabah, “pengumandang seruan langit itu."

Menjelang saat-saat terakhirnya, pada saat itu Bilal berada di Damaskus,Syria. Istri Bilal berkata “Benar-benar suatu duka.” Tapi Bilal bin Rabah berkata “Tidak. Katakanlah: Benar-benar kebahagiaan, karena besok aku akan menemui kekasihku Rasulullah Muhammad S.A.W. dan para sahabat.”

Dapatkah sahabat khazanah islam bayangkan, seberapa besar imannya? Dia sedang sakaratul maut, tapi Bilal malah merasa senang karena dengan meninggalkan dunia, maka dia akan bertemu dengan kekasihnya yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Karena Rasulullah S.A.W. pernah bersabda “Dunia ini adalah surga bagi orang-orang kafir dan penjara bagi orang-orang yang beriman.”

Kenapa dunia menjadi penjara bagi orang-orang beriman? Karena dunia menahan kaum Muslimin dari bertemu Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan surga bagi orang-orang kafir karena hanya inilah yang mereka miliki.

(sumber : disarikan dari www.lampuislam.org/2013/08/kisah-bilal-bin-rabah-seorang-budak.html)

Kebenaran datangnya dari Allah SWT, Kesalahan datangnya dari saya. silahkan bagikan ke orang lain (share)..Untuk dapat update dari kami Suka Halaman Khazanah Islam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Subhanallah!! Bilal bin Rabah, Pengumandang Seruan Langit"

Post a Comment